-->

[ADS] Top Ads

Melirik Kerusakan Terumbu Karang di Raja Ampat dan Dampaknya

Daftar isi: [Tampil]
Jika berbicara mengenai kehidupan ekosistem laut, selain flora dan fauna yang sangat penting keseimbangannya bagi ekosistem laut, kita juga mengenal istilah terumbu karang. Terumbu karang ini merupakan organisme perairan yang fungsinya menahan gelombang laut.

Disana hidup aneka tumbuhan seperti alga, kerangka kapur dan aneka binatang karang. Dengan fungsinya yang sangat besar, tentu jika terjadi kerusakan terumbu karang maka ekosistem laut akan terganggu.

Masalahnya, Raja Ampat sekarang ini sedang mengalami masalah tersebut. Jangkar kapal wisata merusak terumbu karang yang ada di wilayah Raja Ampat sehingga ekosistem laut tak lagi seimbang. Mengenai dampak dari kerusakan terumbu karang di Raja Ampat bagi wilayah perairan Raja Ampat akan kita kupas dalam informasi berikut ini!

Dampak Kerusakan Terumbu Karang di Raja Ampat

Di wilayah Raja Ampat, karena Kapal Caledonian Sky karam di tahun 2017 silam dan menghantam terumbu karang, terumbu karang mengalami kerusakan dengan luas wilayah yang besar. Luas terumbu karang yang rusak mencapai angka 1600 meter persegi.

Parahnya lagi, terumbu karang yang rusak tersebut berada di wilayah jantung Raja Ampat yang merupakan suatu pusat keanekaragaman hayati laut. Akibatnya banyak flora penahan gelombang yang mengalami kerusakan dan banyak fauna yang mati karena terdampak kerusakan terumbu karang.
Ilustrasi perairan Raja Ampat
Ilustrasi perairan Raja Ampat

Hal ini tentu sangat berdampak buruk pada keanekaragaman hayati bagi laut Raja Ampat yang selama ini dikenal menjadi populasi flora dan fauna terbesar di Indonesia. Dari segi ekonomi, dampak kerusakan terumbu karang menyentuh angka 46 juta dolar dalam kurun waktu 4 tahun saja.

Hal ini juga turut didasarkan atas hasil suatu penelitian yang dilakukan oleh Herman Cesar yang merupakan seorang konsultan bank dunia. Dalam penelitiannya, kerusakan terumbu karang yang terjadi juga disebabkan utamanya karena penggunaan racun laut dalam skala besar.

Racun tersebut dilakukan oleh sebagian nelayan. Jika nelayan modern menggunakan pukat, maka racun digunakan oleh nelayan tradisional. Ditambah lagi terdapat kerugian mencapai 86 ribu dolar per kilometer persegi akibat dari penggunaan pukat.

Perhitungan atas hilangnya potensi nilai ekonomi terumbu karang sendiri dihitung atas biaya perbaikan yang diperlukan dalam memberikan perlindungan pantai setelah terumbu karang hilang. Seperti yang kita tahu bahwa salah satu fungsi dari terumbu karang adalah dijadikan sebagai alat pelindung wilayah pesisir dari ancaman buruk peristiwa pengikisan yang terjadi karena arus dan juga ombak.

Jika terumbu karang tidak ada, atau bahkan jumlahnya musnah di laut lepas maka dibutuhkan angka mencapai 193 ribu dolar tiap kilometer persegi atas biaya perlindungan tepian pantai yang ada di Indonesia. Tentu jumlah tersebut merupakan angka yang sangat tinggi khususnya bagi keuangan negara Indonesia.

Tentu sangat disayangkan juga jika kita harus mengeluarkan dana sebesar itu untuk memberikan perlindungan laut yang sebenarnya sudah disediakan sendiri oleh alam. Hanya saja karena rusak, maka hal tersebut menjadi PR lanjutan bagi Indonesia untuk mengatasinya tanpa membebani anggaran terlalu banyak.

Melihat kondisi yang sangat memprihatinkan semacam ini, tentu saja perlu adanya suatu upaya untuk semakin memperlambat terjadinya kerusakan dan juga menghindari semakin parahnya kerusakan atas terumbu karang.

Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia mencanangkan suatu program rehabilitasi dan tata kelolaterumbu karang yang disebut dengan Core-Map. Program yang semacam ini memiliki tujuan utama yaitu digunakan untuk mengelola dan sekaligus memanfaatkan sumber daya terumbu karang secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan di tengah lingkungan masyarakat.

Post a Comment

Copyright © 2019

Kemdikbud.co.id